Senin, 05 Maret 2012

Mengenal Penyakit Lupus

Penyakit LUPUS adalah penyakit baru yang mematikan setara dengan kanker. Tidak sedikit pengindap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia terdeteksi penyandang penyakit Lupus mencapai 5 juta orang, lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya.
Arti kata lupus sendiri dalam bahasa Latin berarti “anjing hutan”. Istilah ini mulai dikenal sekitar satu abad lalu. Awalnya, penderita penyakit ini dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi . Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan , rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh.
Gejala-gejala penyakit dikenal sebagai Lupus Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus. Eritomatosus artinya kemerahan. sedangkan sistemik bermakna menyebar luas keberbagai organ tubuh. Istilahnya disebut LES atau Lupus. Gejala-gejala yang umum dijumpai adalah:
  1. Kulit yang mudah gosong akibat sinar matahari serta timbulnya gangguan pencernaan.
  2. Gejala umumnya penderita sering merasa lemah, kelelahan yang berlebihan, demam dan pegal-pegal. Gejala ini terutama didapatkan pada masa aktif, sedangkan pada masa remisi (nonaktif) menghilang.
  3. Pada kulit, akan muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip kupu-kupu. Kadang disebut (butterfly rash). Namun ruam merah menyerupai cakram bisa muncul di kulit seluruh tubuh, menonjol dan kadang-kadang bersisik. Melihat banyaknya gejala penyakit ini, maka wanita yang sudah terserang dua atau lebih gejala saja, harus dicurigai mengidap Lupus.
  4. Anemia yang diakibatkan oleh sel-sel darah merah yang dihancurkan oleh penyakit LUPUS ini
  5. Rambut yang sering rontok dan rasa lelah yang berlebihan
Dr. Rahmat Gunadi dari Fak. Kedokteran Unpad/RSHS menjelaskan, penyakit lupus adalah penyakit sistem imunitas di mana jaringan dalam tubuh dianggap benda asing. Reaksi sistem imunitas bisa mengenai berbagai sistem organ tubuh seperti jaringan kulit, otot, tulang, ginjal, sistem saraf, sistem kardiovaskuler, paru-paru, lapisan pada paru-paru, hati, sistem pencernaan, mata, otak, maupun pembuluh darah dan sel-sel darah.
“Penyakit ini dapat mengenai semua lapisan masyarakat, 1-5 orang di antara 100.000 penduduk, bersifat genetik, dapat diturunkan. Wanita lebih sering 6-10 kali daripada pria, terutama pada usia 15-40 tahun. Bangsa Afrika dan Asia lebih rentan dibandingkan kulit putih. Dan tentu saja, keluarga Odapus. Timbulnya penyakit ini karena adanya faktor kepekaan dan faktor pencetus yaitu adanya infeksi, pemakaian obat-obatan, terkena paparan sinar matahari, pemakaian pil KB, dan stres,” ujarnya. Penyakit ini justru kebanyakaan diderita wanita usia produktif sampai usia 50 tahun sekalipun ada juga pria yang mengalaminya. Oleh karena itu dianggap diduga penyakit ini berhubungan dengan hormon estrogen.
Pada kehamilan dari perempuan yang menderita lupus, sering diduga berkaitan dengan kehamilan yang menyebabkan abortus, gangguan perkembangan janin atau pun bayi meninggal saat lahir. Tetapi hal yang berkebalikan juga mungkin atau bahkan memperburuk geja LUPUS. Sering dijumpai gejala Lupus muncul sewaktu hamil atau setelah melahirkan.
Tubuh memiliki kekebalan untuk menyerang penyakit dan menjaga tetap sehat. Namun, dalam penyakit ini kekebalan tubuh justru menyerang organ tubuh yang sehat. Penyakit Lupus diduga berkaitan dengan sistem imunologi yang berlebih. Dalam tubuh seseorang terdapat antibodi yang berfungsi menyerang sumber penyakit yang akan masuk dalam tubuh. Uniknya, penyakit Lupus ini antibodi yang terbentuk dalam tubuh muncul berlebihan. Hasilnya, antibodi justru menyerang sel-sel jaringan organ tubuh yang sehat. Kelainan ini disebut autoimunitas . Antibodi yang berlebihan ini, bisa masuk ke seluruh jaringan dengan dua cara yaitu :
Pertama, antibodi aneh ini bisa langsung menyerang jaringan sel tubuh, seperti pada sel-sel darah merah yang menyebabkan selnya akan hancur. Inilah yang mengakibatkan penderitanya kekurangan sel darah merah atau anemia.
Kedua, antibodi bisa bergabung dengan antigen (zat perangsang pembentukan antibodi), membentuk ikatan yang disebut kompleks imun.Gabungan antibodi dan antigen mengalir bersama darah, sampai tersangkut di pembuluh darah kapiler akan menimbulkan peradangan. Dalam keadaan normal, kompleks ini akan dibatasi oleh sel-sel radang (fagosit) Tetapi, dalam keadaan abnormal, kompleks ini tidak dapat dibatasi dengan baik. Malah sel-sel radang tadi bertambah banyak sambil mengeluarkan enzim, yang menimbulkan peradangan di sekitar kompleks. Hasilnya, proses peradangan akan berkepanjangan dan akan merusak organ tubuh dan mengganggu fungsinya. Selanjutnya, hal ini akan terlihat sebagai gejala penyakit. Kalau hal ini terjadi, maka dalam jangka panjang fungsi organ tubuh akan terganggu.
Kesembuhan total dari penyakit ini, tampaknya sulit. Dokter lebih berfokus pada pengobatan yang sifatnya sementara.Lebih difokuskan untuk mencegah meluasnya penyakit dan tidak menyerang organ vital tubuh.

doktersehat.com

Diskriminasi Terhadap Penderita Lepra/Kusta

Saat mendengar kata "kusta" yang ada dibayangan adalah penyakit menular yang menjijikan. Itulah gambaran yang muncul dibenak sebagian besar masyarakat Indonesia. Stigma dan diskriminasi terhadap penderita kusta oleh masyarakat adalah hal yang sangat disayangkan.Penyakit ini banyak diderita oleh masyarakat yang tegolong kaum marginal dan miskin, yang kehidupan mereka tidak layak baik dari segi sanitasi, gizi dan kesehatannya dimana Indonesia merupakan negara dengan persentase penduduk marginal dan miskinnya tinggi. Semakin banyak kemiskinan, dapat dipastikan masalah kusta akan semakin bertambah jika tidak cepat tanggap. 

Banyak penderita kusta yang di PHK setelah dia difonis menderita kusta. Dihina dan diasingkan oleh tetangga, bahkan ada penderita kusta yang mengaku diusir dari lingkungan tempat tinggalnya. Seperti pengakuan dari Ahmad Zainudin yang dikutip dari transformasilepra.org 


Kusta atau Bukan?
Ahmad Zainudin lahir 31 tahun yang lalu di Lamongan, Jawa Timur. Dia berasal dari keluarga yang hidupnya sederhana. Tak pernah terbayangkan di benaknya bahwa dia akan terkena penyakit kusta. Pada awal 2003, Ahmad Zainudin mengalami keanehan pada tubuhnya. Kaki kanannya sering kesemutan dan mati rasa. Namun, dia tidak terlalu menghiraukannya hingga timbul luka di telapak kakinya. Semakin lama semakin banyak timbul luka di telapak kaki kanannya, tidak kunjung sembuh dan dia mulai kesulitan untuk beraktivitas seperti biasa. Ahmad Zainudin mencoba berobat ke rumah sakit dan melakukan tes darah. Dokter memberi diagnosa kalau dia terkena diabetes atau kencing manis. Hampir setahun dia rutin berobat ke rumah sakit namun lukanya tak juga sembuh. Orang tuanya membawa dia berobat tradisional, menginjak batu bata bakar. Tetapi dia tidak merasakan panasnya batu bata itu. Aneh. Suatu saat dia bermain bola voli dan alangkah kagetnya dia ketika melihat sepatu putihnya. Sepatu yang putih berubah warna menjadi merah. Dan yang lebih mengagetkan lagi, telapak kaki kanan seperti tidak menempel di tulangnya. Namun, dia tidak merasakan sakit sedikitpun. Keesokan hari, dia dibawa ke rumah sakit untuk berobat lagi.Oleh dokter, dia disarankan untuk diet dan minum obat teratur. Setelah beberapa bulan, luka di telapak kaki mulai sembuh, syukurlah.


Akhirnya…...
Namun tak lama setelah luka di kaki sembuh, bercak — bercak putih mulai timbul di wajahnya. Dia mencoba memeriksakan diri ke dokter kulit di rumah sakit. Tetapi anehnya dokter tidak memberitahukan dia terkena penyakit apa dan hanya memberinya surat untuk berobat ke puskesmas. Lalu dia pergi ke puskesmas. Akhirnya… dia tahu bahwa dia telah terkena penyakit kusta. Tak percaya, marah, sedih, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Orang tuanya kaget bukan kepalang hingga mereka membatasi diri untuk bersama dengan anak mereka sendiri. Makan, minum dan tidur selalu sendirian dan harus menjauh dari anggota keluarga yang lain. Meskipun hatinya sedih namun dia mengerti dengan keputusan orang tuanya. Dengan rutin dia berobat ke puskesmas dan setelah 3 bulan, bercak — bercak putih di wajahnya mulai menghilang. Tetapi ketika suatu saat dia pergi ke daerah dingin, dia mulai mengalami reaksi kusta. Muncul bengkak — bengkak merah dan apabila disentuh terasa sakit dan nyeri. Bahkan dia dirawat di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya sampai 25 hari lamanya. Tak lelah dia berobat dan minum obat secara teratur, hingga akhirnya sembuh total dai penyakit kusta. Namun, penderitaan Ahmad Zainudin tidak hanya sampai disitu saja.

Stigma Dan Diskriminasi...
setelah sembuh, Ahmad Zainudin menjadi guru bahasa inggris di tiga (3) SD di Lamongan, Jawa Timur. Tetapi dia mendapatkan diskriminasi bahkan dipecat dari dua (2) Sekolah Dasar tempat dia mengajar. Dan yang lebih menyakitkan lagi, tempat duduk yang dipakainya mengajar sampai dicuci 7 kali oleh pihak sekolah. Mereka berpikir kusta adalah penyakit keturunan,kutukan dan tidak dapat disembuhkan. Dia sangat terpukul dan semakin tumbuh semangat dalam dirinya untuk menghapus stigma dan diskriminasi bagi penderita kusta. Untunglah, SDN Kramat II Lamongan masih menerima dia bekerja sebagai guru, meski hanya guru tidak tetap. Lebih bersyukur lagi tidak ada diskriminasi di sana. Mereka sudah tahu sebenarnya apa itu kusta.

Permata
bertemu dengan orang — orang dari seluruh dunia. Ya, semua itu karena kusta. Pada awal 2008, Ahmad Zainudin menjadi salah satu wakil Indonesia untuk hadir dalam “Leprosy Congress” di India. Setelah itu, dia juga berkesempatan ke makassar dan bertemu dengan saudara — saudara dari berbagai daerah di Indonesia. Dan di Makassar pula akhirnya para mantan penderita kusta sepakat untuk mendirikan perkumpulan yang ingin memerangi kusta di Indonesia. Mereka menamakannya Perhimpunan Mandiri Kusta Indonesia atau disingkat dengan PerMaTa. PerMaTa berupaya menghapus stigma dan diskriminasi bagi penderita kusta sehingga dapat kembali memperoleh kewajiban dan hak seperti orang — orang di sekitar mereka.

Seharusnya sosialisasi tentang penyakit lepra kepada masyarakat harus lebih dtingkatkan, agar diskriminasi terhadap penderita lepra atau kusta ini dapat dihilangkan.  

Dampak Lepra pada Tubuh

Beberapa dampak penyakit lepra yang ditimbulkan pada tubuh 


                                                   

Lepra

Lepra (penyakit hansen) adalah infeksi menahun yang terutama ditandai oleh adanya kerusakan saraf perifer (saraf diluar otak dan medulla spinalis), kulit, selaput lendir hidung, buah zakar (testis) dan mata.

Penyebab
Bakteri Mycobacterium leprae.

Faktor Risiko
Sekitar 50% penderita kemungkinan tertular karena berhubungan dekat dengan seseorang yang terinfeksi.
Infeksi juga mungkin ditularkan melalui tanah, armadillo, kutu busuk dan nyamuk.

Sekitar 95% orang yang terpapar oleh bakteri lepra tidak menderita lepra karena sistem kekebalannya berhasil melawan infeksi. Infeksi dapat terjadi pada semua umur, paling sering mulai dari usia 20an dan 30an. bentuk lepromatosa 2 kali lebih sering ditemukan pada pria.

Gejala dan Tanda
Bakteri penyebab lepra berkembangbiak sangat lambat, sehingga gejalanya baru muncul minimal 1 tahun setelah terinfeksi (rata-rata muncul pada tahun ke-5-7). Jenis lepra menentukan prognosis jangka panjang, komplikasi yang mungkin terjadi dan kebutuhan akan antibiotik :

1) Lepra tuberkuloid ditandai dengan ruam kulit berupa 1 atau beberapa daerah putih yang datar. Daerah tersebut bebal terhadap sentuhan karena mikobakteri telah merusak saraf-sarafnya.

2) Pada lepra lepromatosa muncul benjolan kecil atau ruam menonjol yang lebih besar dengan berbagai ukuran dan bentuk. Terjadi kerontokan rambut tubuh, termasuk alis dan bulu mata.

3) Lepra perbatasan merupakan suatu keadaan yang tidak stabil, yang memiliki gambaran kedua bentuk lepra. Pada semua jenis, selama perjalanan penyakit baik diobati maupun tidak diobati, bisa terjadi reaksi kekebalan tertentu, yang kadang timbul sebagai demam dan peradangan kulit, saraf tepi dan kelenjar getah bening, sendi, buah zakar, ginjal, hati dan mata.

Pencegahan
Dulu perubahan bentuk anggota tubuh akibat lepra menyebabkan penderitanya diasingkan dan diisolasi. Pengobatan dini bisa mencegah atau memperbaiki kelainan bentuk, tetapi penderita cenderung mengalami masalah psikis dan sosial. Tidak perlu dilakukan isolasi.

Lepra hanya menular jika terdapat dalam bentuk lepromatosa yang tidak diobati dan itupun tidak mudah ditularkan kepada orang lain. selain itu, sebagian besar secara alami memiliki kekebalan terhadap lepra dan hanya orang yang tinggal serumah dalam jangka waktu yang lama yang memiliki resiko tertular. Dokter dan perawat yang mengobati penderita lepra tampaknya tidak memiliki resiko tertular.

Penatalaksanaan
Antibiotik dapat menahan perkembangan penyakit atau bahkan menyembuhkannya. Beberapa mikobakterium mungkin resisten terhadap obat tertentu, karena itu sebaiknya diberikan lebih dari 1 macam obat, terutama pada penderita lepra lepromatosa.
Antibiotik yang paling banyak digunakan untuk mengobati lepra adalah dapson, relatif tidak mahal dan biasanya aman. Kadang obat ini menyebabkan reaksi alergi berupa ruam kulit dan anemia.

Rifampin adalah obat yang lebih mahal dan lebih kuat daripada dapson. Efek samping yang paling serius adalah kerusakan hati dan gejala-gejala yang menyerupai flu.

Antibiotik lainnya yang bisa diberikan adalah klofazimin, etionamid, misiklin, klaritromisin dan ofloksasin. Terapi antibiotik harus dilanjutkan selama beberapa waktu karena bakteri penyebab lepra sulit dilenyapkan. Pengobatan bisa dilanjutkan sampai 6 bulan atau lebih, tergantung kepada beratnya infeksi dan penilaian dokter. Banyak penderita lepra lepromatosi yang mengkonsumsi dapson seumur hidupnya.

www.kalbe.co.id

Hepatitis B

Penyakit hepatitis B adalah jenis penyakit yang tidak menunjukkan gejala berarti. Tak heran bila para penderitanya sama sekali tidak menyadari kalau dirinya telah menderita hepatitis B bahkan bila sudah dalam kondisi kronis sekalipun.

"Yang paling sering ditemukan memang tanpa gejala. Banyak sekali pasien yang kita obati tidak tahu kalau dirinya sudah sakit. Beruntung kalau ada pasien yang rajin atau sadar melakukan check-up setiap tahun. Dengan penanganan sejak dini, kemungkinannya untuk menjadi kronis tentu bisa dikurangi," ungkap Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI)  dr. Unggul Budihusodo, Sp.PD-KGEH di Jakarta, Selasa (17/6). 

Ditegaskan dr Unggul, memang sulit untuk menentukan apakah seseorang menderita hepatitis B hanya dari gejalanya. Tentu yang paling valid adalah berdasarkan hasil pemeriksaan darah di laboratorium.

Namun begitu, ada gejala-gejala yang mungkin hadir pada pendeita meskipun tidak selalu muncul. "Gejala-gejala yang mungkin ada seperti kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, diare, perubahan warna urin dan feses, mata dan warna kulit yang tampak menguning," papar dr Unggul yang sehari-hari berkantordi Divisi Hepatologi Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta .

Ia menambahkan, seseorang akan dinyatakan positif mengalami hepatitis B oleh dokter bila telah menjalani serangkaian pemeriksaan secara klinis di laboratorium. Dokter biasanya akan mempertimbangkan sejumlah indikator seperti HBsAg positif (antigen yang menandakan adanya infeksi) atau  kenaikan enzim hati (SGOT dan SGPT).

"Dari hasil pemeriksaan nanti, dokter kemudian akan menentukan apakah infeksi ini perlu diobati atau tidak. Sebagai contoh, tidak semua yang memiliki HBsAg positif  akan diobati karena harus dilihat dulu dari kelompok mana dan harus dilihat faktor lain yang menyebabkannya," jelas dr Unggul.

Sementara itu, seseorang akan dinyatakan mengidap hepatisis B kronik bila ia sudah menderita atau mengidap infeksi selama lebih dari enam bulan.  Diagnosa juga didasarkan pada adanya HBV DNA (indikasi replikasi virus aktif) dalam serum, kenaikan enzim hati, bukti histologis serta hasil USG yang menunjukkan proses peradangan hati.

Saat ini, pengobatan hepatiitis B tersedia dalam bentuk oral dan injeksi. Untuk pengobatan oral, pasien sepanjang hidupnya harus meminum obat yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi dan menginfeksi sel-sel hati lebih banyak lagi.  Di Indonesia, tersedia 4 jenis obat oral yang mendapat lisensi FDA, yakni Entecavir, Lamivudine, Adefovir dan Telbivudine.   Sedangkan melalui injeksi, pasien akan diberi  interferon atau senyawa sistesis yang menyerupai zat yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi infeksi. 

Sumber : Kompas

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India