Tampilkan postingan dengan label Hepatitis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hepatitis. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

Hepatitis B

Penyakit hepatitis B adalah jenis penyakit yang tidak menunjukkan gejala berarti. Tak heran bila para penderitanya sama sekali tidak menyadari kalau dirinya telah menderita hepatitis B bahkan bila sudah dalam kondisi kronis sekalipun.

"Yang paling sering ditemukan memang tanpa gejala. Banyak sekali pasien yang kita obati tidak tahu kalau dirinya sudah sakit. Beruntung kalau ada pasien yang rajin atau sadar melakukan check-up setiap tahun. Dengan penanganan sejak dini, kemungkinannya untuk menjadi kronis tentu bisa dikurangi," ungkap Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI)  dr. Unggul Budihusodo, Sp.PD-KGEH di Jakarta, Selasa (17/6). 

Ditegaskan dr Unggul, memang sulit untuk menentukan apakah seseorang menderita hepatitis B hanya dari gejalanya. Tentu yang paling valid adalah berdasarkan hasil pemeriksaan darah di laboratorium.

Namun begitu, ada gejala-gejala yang mungkin hadir pada pendeita meskipun tidak selalu muncul. "Gejala-gejala yang mungkin ada seperti kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, diare, perubahan warna urin dan feses, mata dan warna kulit yang tampak menguning," papar dr Unggul yang sehari-hari berkantordi Divisi Hepatologi Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta .

Ia menambahkan, seseorang akan dinyatakan positif mengalami hepatitis B oleh dokter bila telah menjalani serangkaian pemeriksaan secara klinis di laboratorium. Dokter biasanya akan mempertimbangkan sejumlah indikator seperti HBsAg positif (antigen yang menandakan adanya infeksi) atau  kenaikan enzim hati (SGOT dan SGPT).

"Dari hasil pemeriksaan nanti, dokter kemudian akan menentukan apakah infeksi ini perlu diobati atau tidak. Sebagai contoh, tidak semua yang memiliki HBsAg positif  akan diobati karena harus dilihat dulu dari kelompok mana dan harus dilihat faktor lain yang menyebabkannya," jelas dr Unggul.

Sementara itu, seseorang akan dinyatakan mengidap hepatisis B kronik bila ia sudah menderita atau mengidap infeksi selama lebih dari enam bulan.  Diagnosa juga didasarkan pada adanya HBV DNA (indikasi replikasi virus aktif) dalam serum, kenaikan enzim hati, bukti histologis serta hasil USG yang menunjukkan proses peradangan hati.

Saat ini, pengobatan hepatiitis B tersedia dalam bentuk oral dan injeksi. Untuk pengobatan oral, pasien sepanjang hidupnya harus meminum obat yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi dan menginfeksi sel-sel hati lebih banyak lagi.  Di Indonesia, tersedia 4 jenis obat oral yang mendapat lisensi FDA, yakni Entecavir, Lamivudine, Adefovir dan Telbivudine.   Sedangkan melalui injeksi, pasien akan diberi  interferon atau senyawa sistesis yang menyerupai zat yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi infeksi. 

Sumber : Kompas

Hepatitis A

Hepatitis A merupakan infeksi virus pada hati.Virus ini ditularkan melaluirute fekal-oral termasuk makanan atau air tercemar, atau melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Vaksinasi dan kebersihan baik mencegah infeksi. 

Apa itu hepatitis A?
‘Hepatitis’ berarti radang atau bengkak hati, dan dapat disebabkan oleh bahan kimia atau obat, atau berbagai jenis infeksi virus. Salah satu penyebab umum hepatitis berjangkit adalah virus hepatitis A. Infeksi dengan satu jenis virus hepatitis TIDAK memberikan perlindungan terhadap infeksi dengan virus hepatitis lain.

Apa gejalanya?
Gejala-gejala termasuk terasa kurang sehat, rasa sakit, demam, mual, kurang nafsu makan, perut terasa kurang enak, diikuti dengan air seni berwarna pekat, tinja pucat dan penyakit kuning (mata dan kulit menjadi kuning). Penyakit biasanya berlanjut selama satu sampai tiga minggu (walaupun gejala tertentu dapat berlanjut lebih lama) dan hampir selalu diikuti dengan penyembuhan sepenuhnya. Anak-anak kecil yang terinfeksi biasanya tidak menderita gejala. Hepatitis A TIDAK mengakibatkan penyakit hati jangka panjang dan kematian akibat hepatitis A jarang terjadi. Jangka waktu antara kontak dengan virus dan timbulnya gejala biasanya empat minggu, tetapi dapat berkisar antara dua sampai tujuh minggu.

Bagaimana penyakit ini ditularkan?
Orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ini kepada orang lain dari dua minggu sebelum timbulnya gejala sampai seminggu setelah timbulnya penyakit kuning (kira-kira tiga minggu secara keseluruhan). Jumlah virus yangbesar ditemui dalam tinja (tahi) orang yang terinfeksi selama waktu penularan. Virus ini dapat hidup di lingkungan selama beberapa minggu dengan keadaan yang benar (misalnya, dalam saliran). Hepatitis A biasanya ditularkan sewaktu virus dari orang yang terinfeksi tertelan oleh orang lain melalui:
  • makan makanan tercemar
  • minum air tercemar
  • menyentuh lampin, seprai dan handuk yang dikotori tinja dari orang yang dapat menularkan penyakit
  • hubungan langsung (termasuk seksual) dengan orang yang terinfeksi

Wabah hepatitis A yang dilaporkan telah dilacak ke:
  • penularan dari seorang ke orang lain, termasuk di kalangan pria yang berhubungan kelamin dengan pria
  • air minum yang tercemar dengan saliran
  • makan makanan yang telah dicemari saliran seperti kerang-kerangan
  • makan makanan yang tercemar oleh pekerja makanan yang dapat menularkan penyakit.
Infeksi hepatitis A tetap menjadi masalah bagi orang yang sedang melakukan perjalanan ke luar negeri terutama orang yang sedang berkunjung ke negaranegara di mana hepatitis A umum terjadi.

Siapa saja yang menghadapi risiko?
Orang yang belum menderita hepatitis A dan belum divaksinasi terhadap penyakit ini menghadapi risiko terjangkit penyakit ini.

Bagaimana penyakit ini dicegah?
Vaksinasi
Tersedia vaksin yang aman dan efektif terhadap hepatitis A. Vaksin ini mungkin memakan waktu sampai dua minggu untuk memberikan perlindungan. Vaksinasi direkomendasikan untuk kelompok-kelompok berikut yang menghadapi risiko lebih tinggi:
• orang yang berkunjung ke negara di mana hepatitis A umum terjadi (kebanyakan negara sedang                mebangun)
• orang yang sering berkunjung ke masyarakat pribumi di luar kota dan
daerah terpencil
• pria yang berhubungan kelamin dengan pria
• petugas penitipan anak siang hari dan prasekolah
• penyandang cacat intelektual dan penjaganya
• beberapa petugas kesehatan yang bekerja dalam atau denga masyarakat pribumi
• petugas saliran
• tukang leding
• pengguna narkoba suntik
• pasien yang menderita penyakit hati kronis
• penderita hemofilia yang mungkin menerima konsentrat plasma terkumpul.

Apa lagi yang dapat dilakukan untuk mencegah hepatitis A?
Semua orang harus selalu mencuci tangan dengan baik dengan sabun dan air mengalir selama sekurang-kurangnya 10 detik dan dikeringkan dengan handuk bersih:
• setelah menggunakan kakus
• sebelum makan
• sebelum menykan makanan atau minuman
• setelah menyentuh benda seperti lampin dan kondom.

Apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah dari menginfeksi orang lain?
Jika Anda menderita hepatitis A, di samping mencuci tangan Anda dengan bersih, Anda harus menjauhi dari kegiatan berikut ketika dapat menularkan penyakit (yaitu, sampai sekurang-kurangnya seminggu setelah timbulnya penyakit kuning):
• JANGAN mempkan makanan atau minuman untuk orang lain
• JANGAN menggunakan alat makan atau alat minum yang sama dengan orang lain
• JANGAN menggunakan seprai dan handuk yang sama dengan orang lain
• jangan berhubungan kelamin
• cuci alat makan dalam air bersabun, dan cuci seprai dan handuk dengan mesin cuci.

Orang berikut yang menderita hepatitis A harus tidak menghadiri tempat kerja atau sekolah ketika dapat menularkan penyakit:
• orang yang mengendalikan makanan atau minuman
• orang yang pekerjaannya melibatkan hubungan pribadi secara dekat, misalnya petugas penitipan anak dan   petugas kesehatan
• staf, anak-anak dan kaum remaja harus tidak menghadiri fasilitas penitipan anak atau sekolah ketika dapat menularkan penyakit
• semua pasien harus bertanya kepada dokternya sebelum kembali bekerja atau bersekolah.

Bagaimana penyakit ini didiagnosis?
Diagnosis berdasarkan gejala pasien dan dikonfirmasikan dengan tes darah yang menunjukkan antibodi IgM terhadap hepatitis A.

Bagaimana penyakit ini dirawat?
Tidak ada perawatan spesifik untuk hepatitis A. Kontak di rumah dan pasangan seksual orang yang dapat menularkan penyakit biasanya memerlukan suntikan imunoglobulin. Infeksi tersebut dapat mencegah atau mengurangi penyakit jika diberikan dalam waktu dua minggu setelah kontak dengan orang yang dapat menularkan penyakit.

Apa tanggapan kesehatan umum?
• Dokter, rumah sakit dan laboratorium harus melaporkan kasus hepatitis A kepada Unit Kesehatan Umum setempat secara rahasia.
• Staf Unit Kesehatan Umum akan bekerja sama dengan dokter, pasien atau keluarga pasien untuk menentukan kontak dekat yang menghadapi risiko infeksi dan mengatur agar orang yang menghadapi risiko menerima informasi tentang penyakit ini. Staf unit tersebut mengikuti garis pedoman khusus untuk menangani kasus hepatitis A di kalangan orang yang menghadiri atau bekerja di pusat penitipan anak, dan juga di kalangan orang yang mengendalikan makanan untuk dijual. Staf Unit Kesehatan Umum juga menyelidiki wabah hepatitis A untuk menentukan penyebab wabah tersebut, mengendalikan penularannya dan mencegah infeksi lebih lanjut.

Minggu, 04 Maret 2012

Hepatitis C

Infeksi hepatitis C 
 merupakan salah satu masalah kesehatan di seluruh dunia dengan angka insidensi 170 juta orang di seluruh dunia. Salah satu masalah utama yang ditimbulkan penyakit ini karena hampir 85 % orang yang terinfeksi akan menjadi kronis, dan sepertiganya akan berkembang menjadi sirosis atau kerusakan jaringan hati yang berat .

Apakah yang dimaksud dengan penyakit Hepatitis C ?
Merupakan peradangan pada jaringan liver / hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C.  Keadaan ini dapat berlanjut menjadi kerusakan jaringan hati yang luas yang disebut sirrosis hepatis. Pada beberapa kasus sirosis akan berkembang menjadi kegagalan hati, termasuk kanker hati.

Apakah penyebab infeksi Hepatitis C ?
Penyebabnya adalah virus hepatitis C, merupakan family Flaviviridae, termasuk golongan virus RNA.

Bagaimana cara penularan penyakit ini ?
Penyebaran virus ini melalui darah, dapat melalui jalan tranfusi darah, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, misal pada pengguna narkoba suntik, transplantasi organ. Hepatitis C juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual, namun kemungkinannya kecil, namun memiliki pasangan seksual yang berganti-ganti dapat meningkatkan resiko infeksi. Berbeda dengan hepatitis B, penularan melalui ibu hamil ke janin saat proses kelahiran ataupun melalui ASI juga tidak biasa ditemukan. Hepatitis C juga dapat ditularkan melalui kecelakaan kerja, misalnya pada petugas kesehatan yang terkena darah / cairan tubuh yang terkontaminasi virus. Lebih dari 50% kasus hepatitis C ditransmisikan melalui penggunaan obat-obatan suntik / injeksi.

Bagaimana gejala penyakit ini ?
Pada awal infeksi, hanya sekitar 25 % pasien yang menunjukkan gejala hepatitis akut, seperti misalnya lemah, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, dan demam tidak tinggi. Kadang muncul gejala kuning pada kulit dan mata ( ikterik).  Namun, 75% pasien tanpa gejala. Bahkan sampai penyakit menjadi kronik, sering pasien tetap asimptomatik ( tanpa gejala ).

Siapa saja yang perlu melakukan pemeriksaan hepatitis C ?
  • Skreening hepatitis C perlu dilakukan pada orang – orang yang beresiko tinggi, seperti misalnya :
  • Penerima donor transplantasi organ (misalnya kornea, kulit, ginjal, hati, dll).
  • Pengguna narkoba suntik
  • Mempunyai tattoo
  • Berganti – ganti pasangan seksual, atau menderita penyakit menular seksual
  • Mempunyai keluarga dekat ( suami atau istri ) yang menderita hepatitis C
Pemeriksaan diagnostik apa yang perlu dilakukan untuk mendeteksi hepatitis C ?
Diagnosis hepatitis C berdasarkan pemeriksaan laboratorium yaitu Anti HCVdan IgM anti HCV dengan metode enzyme immunoassay untuk mendeteksi antibodi terhadap hepatitis C. Sedangkan untuk konfirmasi diagnosis dilakukan pemeriksaan HCV RNA PCR . Pemeriksaan HCV RNA PCR terdiri dari pemeriksaan kualitatif dan kuantitatif. PCR kualitatif dapat mengetahui keberadaan virus hepatitis C dalam darah (viremia). Sedangkan PCR kuantitatif dapat mengetahui jumlah virus dalam darah, sehingga dapat menentukan apakah perlu diberikan pengobatan dengan antivirus atau tidak. Namun, jumlah virus dalam darah (viral load) tidak berhubungan dengan beratnya penyakit.

Bagaimana cara pencegahan hepatitis C ?
Sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah hepatitis C.  Jadi cara mencegah yang paling baik adalah dengan menghindari cara penularan.

Sumber :
Friedman,L.S., 2008, Liver, Biliary Tract, and Pancreas in Tierney,L.M.,McPhee,S.J.,Papadakis,M.A., (eds), Current Medical Diagnosis and Treatment,Lange, New York.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India